Pentingnya Sikap Wara' (2)


 Abu Inas (Tabayyun Center)


Wara’ pada tingkatan di bawah tingkatan wara' Ash Shiddiqin adalah wara’-nya muttaqiin, Rasul saw. bersabda:


لاَ يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لاَ بَأْسَ بِهِ حَذَرًا لِمَا بِهِ الْبَأْسُ


Seorang hamba tidak akan mencapai derajat muttaqîn hingga ia meninggalkan apa-apa yang tidak bermasalah karena takut terhadap apa-apa yang bermasalah (HR Tirmidzi, Ibn Majah, al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabarani).


Maknanya yaitu meninggalkan hal-hal yang jelas halal/tidak ada kesamaran atau keraguan, namun khawatir nanti bisa terjerumus pada yang haram. Di sinilah sebagian Sahabat ra. berkata, “Kami meninggalkan 70 hal yang halal untuk menjaga diri agar tidak terjatuh pada satu saja hal yang haram.”


Sikap ini seperti Rasul saw saat menemukan sebutir kurma di jalan, saat beliau hendak mamakannya lalu beliau urungkan karena khawatir itu adalah kurma sedekah; seperti sikap seorang guru, pemimpin kelompok atau atasan yang menolak hadiah meskipun kecil yang berasal dari murid, orangtua murid, pengikut atau bawahan karena khawatir dengan itu ia tidak lagi bersikap obyektif atau tidak bisa bersikap tegas atau yang selayaknya karena merasa hutang budi; seperti sikap enggan memakai pakaian mahal karena khawatir akan berbangga diri; atau seperti sikap enggan berutang kepada orang yang hartanya harta haram atau dari aktivitas yang haram; dan sebagainya.


Wara’ yang terendah wara’-nya orang shalih, Rasul saw. bersabda:


إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ كَالرَّاعِى يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ …


Sesungguhnya yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar (syubhat); banyak orang tidak mengetahuinya. Siapa saja yang menjaga diri dari syubhat maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Siapa saja yang jatuh di dalam syubhat, ia hampir terjatuh pada yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar hima (daerah terlarang) hampir-hampir ia (terjatuh) menggembala di dalamnya … (HR Bukhari dan Muslim).


دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ …


Tinggalkan apa-apa yang meragukanmu untuk mengambil apa-apa yang tidak meragukanmu (HR Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasai, ad-Darimi dan Ibn Khuzaimah)


Menurut Sufyan bin Uyainah, sikap wara’ ini adalah yang paling mudah, yaitu jika Anda ragu tentang sesuatu apakah halal atau haram, maka tinggalkan. Syaratnya adalah kemungkinan haram itu memang mungkin atau di dalamnya mungkin terjadi yang haram. Jika tentang sesuatu benda atau perbuatan ada pendapat yang menyatakan halal dan ada yang menyatakan haram, sementara bagi kita belum jelas mana yang lebih kuat sehingga belum jelas halal, maka hendaknya kita menahan diri tidak mengambilnya hingga jelas kehalalannya berdasarkan tarjih yang syar’i.


Namun, sikap wara’ tidak boleh karena was-was yang tak berdasar (wara’ al-muwaswasîn), misalnya tidak mau berdempetan tembok dengan tetangga takut akan terjadi zina atau nguping pembicaraannya. Juga tidak boleh wara’ yang dibuat-buat (wara’ al-mutanaththi’în) seperti tidak mau shalat di atas sajadah milik seseorang yang punya anak kecil karena takut jangan-jangan kena pipis anak itu dan belum dicuci. Sikap seperti ini muncul lebih karena prasangka buruk sehingga wara’ seperti ini justru tidak boleh.


Untuk bersikap wara’, sebelum mengambil dan menggunakan atau melakukan sesuatu hendaklah: Pertama, memastikan atau setidak-nya mencari ghalabah zhan bahwa sesuatu itu halal. Jika belum jelas, tinggalkan. Kedua, memastikan atau setidaknya ghalabah zhan bahwa di dalam sesuatu itu tidak ada hak orang lain. Jika ada dapatkan izin dan kerelaannya. Jika tidak, tinggalkan. Ketiga, bertanya pada diri sendiri: apakah ini menguatkan ibadahku, meningkatkan ketaatanku, memperbesar pengorbananku, menambah taqarrub-ku? Jika tidak, lebih baik tinggalkan untuk mengambil yang jawabannya: ya.


Dengan demikin, sikap wara’ merupakan sikap kritis dan antisipasi diri terhadap apapun yang bisa menjadi aib; mengedepankan kehati-hatian bertindak; keluar dari yang samar menuju yang jelas; meninggalkan yang meragukan menuju yang tak meragukan; tidak memperturutkan keinginan, tetapi mengambil sesuai yang dibutuhkan atau sekadarnya; mengambil hal mubah untuk menguatkan ibadah, meningkatkan ketaatan, memperbesar pengorbanan, dan manambah taqarrub kepada Allah.


Jadi, sikap wara’ harus dibangun atas dasar ilmu syariah dan pemahaman atas fakta, bukan karena was-was atau prasangka. Sikap wara’ itu tumbuh karena iman yang terus hidup di dada, harapan pada keridhaan Allah yang terus bersemi dan rasa takut yang terus menyala terhadap azab-Nya akibat keharaman meski sangat kecil atau sedikit.


Karena itu, tidak aneh jika sikap wara’ melahirkan pribadi-pribadi yang menakjubkan, mendekatkan pemiliknya sedekat mungkin dengan sosok pribadi Rasulullah saw.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post