Penundaan Haji, cukupkah gigit jari?


 Oleh: Annisa Tsabita Al-Arifah (siswi SMAIT Al-Amri) 


Sudah dua tahun ini, Sejak tahun lalu saat pandemi mulai menyelimuti dunia, muslim indonesia secara terpaksa menunda keberangkatannya untuk melaksanakan rukun islam yang kelima, disebabkan Arab Saudi membatasi kuota ibadah haji untuk warga negara dan juga penduduknya untuk tahun kedua sebagai respons atas pandemi virus corona yang masih berlangsung.



Dalam sebuah pernyataan, kementerian yang menyampaikan bahwa hanya orang berusia antara 18 dan 65 tahun yang telah divaksinasi atau diimunisasi virus corona, dan bebas dari penyakit kronis, diizinkan berhaji. Hal ini disampaikan kementerian yang menangani ibadah haji dan umrah dalam sebuah pernyataan.


Sejarah pembatalan ibadah haji ini, bukanlah hanya kedua kalinya terjadi. Selain karena pandemi covid 19, ternyata sudah sering terjadi pembatalan haji beberapa kali yang dilakukan karena berbagai macam faktor. Misalnya oleh wabah penyakit, konflik, aktivitas bandit dan perampok, dan alasan lainnya.



Semestinya, pemerintah merasa miris melihat kondisi muslim Indonesia yang belum bisa menjalankan ibadah haji,  sebagai pelengkap rukun islam, dan sebagai kewajiban para muslim yang mampu untuk menjalankannya. Padahal bila di teliti lagi,  sebenarnya banyak muslim di Indonesia yang mampu melaksanakan haji, tapi belum dapat memenuhinya. 



Sayangnya, saat ini pemerintah  yang menganut sistemik kaputalisme,  menjadikan pandemi inu terus berlarut. Penanganannya masig melnagkah need-based Timbangan untung rugi. Alhasil pandemi Belum juga teratasi.  Termasuk tertundanya hak rakyat dalam melaksanakan ibadah haji. 


Dari sini dapat kita lihat, betapa lalainya pemerintah dalam mengurusi suatu aspek, dan tentunya bukan kali pertama kelalaian ini terjadi. Sungguh miris melihat umat yang kini tak lagi dapat menunaikan rukun islam dengan sempurna. Ini tak lain adalah akibat dari sistem yang diterapkan oleh negara bukanlah sistem yang benar.  Solusi yang dihasilkan pun bersifat parsial.


Saat kapitalisme tidak dapat menjadi solusi yang jitu bagi berbagai problematika umat, adakah sistem lain yang dapat memberikan solusi yang komprehensif? 


Islam, adalah agama yang paripurna. Termasuk memiliki aturan dalam tatanan  kehidupan. Sistem Islam in diterapkan oleh negara  sebagai perisai umat. Sistem yang dengannya segala kemudharatan akan sirna, dan kemaslahatan makin berkilau menyelimuti umat. 


Para pejabatnya sungguh amanah,  karena peraturan yang berjalan adalah hasil penerapan al-qur'an dan as-sunnah,  pedoman sejati bagi penduduk dunia. Pedoman hidup yang sesuai dengan fitroh manusia, memuaskan akal dan menentramkan jiwa. 


Itulah sistem islam yang sangat dirindukan umat, sebagai perisai terbaik umat, yang masih belum terealisasikan lagi untuk kedua kalinya. 


Tapi saat ini, umat tidak perlu risau. Sesuai bisyarah (kabar gembira) Rasul, negara islam ini akan tegak kembali kedua kalinya, untuk menyejahterakan umat. Segala penantian dan perjuangan ini tak akan sia-sia dan akan segera ditegakkan oleh mereka, para generasi emas. Generasi yang sadar akan bisyarah rasul dan terus berusaha berkontribusi dalam penegakan perisai umat ini. 


Siapa lagi yang akan menjadi generasi emas tersebut jika bukan kita, umat yang dirindu rasul? Maka, terus semangat dan bersabar dalam perjuangan ini adalah kuncinya. Takbir!!

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post