Qira'ah Al Qur'an Yang Mutawattir?


 Muhammad Amin,dr,MKed.Klin. SpMK


Qirâ’ah adalah bentuk mashdar dari qara’a–yaqra’u–qirâ’ah wa qur’ân[an]; artinya bacaan. Bentuk jamaknya (plural) qirâ’ât. Orang yang membaca disebut qâri‘ dan bentuk pluralnya adalah qurrâ’. Jadi, qirâ’ah al-Qur‘ân secara bahasa adalah bacaan al-Qur’an.


Qirâ’ah al-Qur’ân yang dimaksud bukanlah dalam pengertian menurut bahasa seperti itu sebab belum memberikan pengertian yang memberikan batasan yang bersifat jâmi’ dan mâni’.


Yang dimaksud qirâ’ah al-Qur’ân bukan sekadar bacaan al-Quran sembarang bacaan. Yang dimaksudkan adalah tatacara melafalkan lafal-lafal al-Quran.


Imam Ibn al-Jaziri (w. 833 H) mendefinisikan qirâ’ah al-Qur’ân sebagai “ilmu tentang tatacara penunaian kalimat-kalimat al-Quran dan perbedaan tatacaranya itu dengan menisbatkan pada orang yang mentransformasikan (an-nâqil).”


Menurut Imam az-Zarkasi di dalam Al-Burhân fî ‘Ulûm al-Qur’ân, qirâ’ah al-Qur’ân adalah perbedaan lafal-lafal wahyu yang disebutkan di dalam huruf-huruf dan tatacaranya baik takhfîf, tasydîd atau lainnya.


Qira’ah al-Quran itu berkaitan dengan pelafalan al-Quran dan makna al-Quran. Al-Quran sendiri, lafal dan maknanya merupakan wahyu dari Allah SWT yang diturunkan kepada Rasul saw. dan yang diriwayatkan dari beliau secara mutawatir dan kita beribadah dengan mengucapkannya.


Dengan demikian, qira’ah al-Quran itu harus mengikuti sifat al-Quran itu. Artinya, qira’ah al-Quran merupakan wahyu dan diriwayatkan dari Rasul saw. secara mutawatir. Karena itu, perbedaan qira’ah dibangun berdasarkan pengucapan wahyu dan bukan bersandar pada pendapat dan ijtihad muqri’.


Definisi di atas sudah mengisyaratkan hal itu dengan menyebut sebagai “penunaian kalimat al-Quran” atau “lafal-lafal wahyu”. Kenyataan tersebut lebih jelas dinyatakan dalam definisi Dr. Abdul Hadi al-Fadhali yang tercantum dalam Al-Qirâ’ah al-Qur’âniyah bahwa qirâ’ah al-Qur’ân adalah pengucapan lafal-lafal al-Quran sebagaimana pengucapan Nabi saw. atau pengucapan yang dilakukan di hadapan beliau dan beliau menyetujuinya. Juga dalam definisi yang dikutip oleh Dr. Muhamamd Ali al-Hasan dalam Al-Manâr fî ‘Ulûm al-Qur’ân (hlm. 57) bahwa qirâ`ah al-Qur’ân adalah tilawah lafal-lafal al-Quran al-Karim sebagaimana yang dibaca oleh Nabi saw. atau sebagaimana yang beliau ketahui dan dengar dari para Sahabat dan beliau menyetujuinya.


Definisi-definisi ini sekaligus menjelaskan dari mana sumber qira’ah itu, bagaimana mengambilnya sekaligus yang menjadi tolok ukur mana yang termasuk qira’ah al-Quran dan mana yang tidak.


Dari sisi sumber, qira’ah itu harus diambil dari Rasul saw. atau yang disetujui oleh Rasul saw., yaitu bersumber dari wahyu. Sebab, qira’ah itu adalah pengucapan lafal-lafal al-Quran, sementara lafal al-Quran adalah wahyu dari Allah SWT, dan satu-satunya pihak yang menerima wahyu al-Quran adalah Rasul saw. Jadi, qira’ah al-Quran harus bersumber dari Rasul saw., yaitu bersumber dari wahyu.


Karena qira’ah harus bersumber dari Rasul saw., maka satu-satunya cara kita mengambil qira’ah adalah melalui periwayatan, tidak dengan jalan yang lain. Perlakuan terhadap riwayat qira’ah ini sama seperti terhadap hadis.


Tentang kriteria suatu qira’ah bisa dinilai sebagai qira’ah al-Qur’an, ada perbedaan pendapat tentang kriteria itu. Ada tiga kriteria yang dinyatakan para ulama: 1. Kesahihan sanad; 2. Kesesuaian dengan rasm Mushaf Utsmani; 3. Kesesuaian dengan ketentuan bahasa Arab. Hanya kriteria pertama yang disepakati oleh para ulama. Tentang rincian ketiga kriteria ini para ulama berbeda pendapat.


Dalam hal ini, Dr. Muhammad Ali al-Hasan mengatakan:



Sesuatu yang tidak diragukan lagi, bahkan disepakati, adalah kriteria kesahihan sanad. Bahkan saya memandang bahwa itulah syarat yang harusnya dibatasi hanya dengannya saja; artinya sebagai satu-satunya. Yang saya maksudkan dengan kesahihan sanad bukan semata sahih, tetapi harus mutawatir, karena al-Quran semuanya mutawatir. Tidak ada seorang Muslim pun yang meragukan hal ini. Dengan qira’ah-nya itu, kaum Mukmin beribadah dengan membacanya. Qira’ah yang berbeda tidak masalah jika mencukupkan dengan salah satunya saja, sebab semuanya adalah al-Quran. Misal, satu ayat surat al-Fatihah boleh dibaca “mâliki yawm ad-dîn” atau “maliki yawm ad-dîn”, sebab keduanya adalah qira’ah mutawatir. Jadi, al-qira’ah adalah al-Quran yang kita beribadah dengan membacanya sehingga harus mutawatir untuk menetapkan kedudukannya sebagai bagian dari al-Quran.


Adapun qira’ah yang tidak mutawatir tidak bisa dinilai sebagai qira’ah al-Quran bagaimanapun ditambah dengan kriteria dan syarat apapun. Sungguh telah keliru orang yang memutuskan “kequranan” suatu qira’ah jika sesuai Mushaf Utsmani dan sesuai bahasa, tetapi tidak mutawatir.


Jika telah jelas benarnya kriteria tawatur sanad maka tidak ada bahaya atas kita dalam dua syarat lainnya. Sebab, tidak terbukti bahwa qira’ah mutawatir itu menyalahi rasm al-Quran atau menyalahi bahasa Arab. (Al-Hasan, Al-Manâr fî ‘Ulûm al-Qur’ân, hlm. 63-64).



Syarat mutawatir ini juga menjadi pendapat Ibn Abdil Bar, Ibn ‘Athhiyah, Ibn Taymiyah, an-Nawawi, al-Awza’iy, as-Subki, az-Zarkasyi, Ibn al-Hajib dan lainnya.


Abu Amr ad-Dani berkata, “Para imam qira’at tidak sedikitpun memperlakukan huruf-huruf al-Quran menurut aturan kebahasaan yang paling populer dan paling sesuai dengan kaidah bahasa Arab, tetapi menurut yang paling tegas dan sahih dalam riwayat dan penukilan. Bila riwayat itu mantap maka aturan kebahasaan dan popularitas bahasa tidak bisa mengingkarinya. Qira’at adalah sunnah yang harus diikuti dan wajib diterima seutuhnya serta dijadikan acuan.”


Menurut as-Suyuthi dan az-Zarqani, orang pertama yang menulis buku qira’at adalah al-Qasim ibn Salam (w. th.224 H) yang menghimpun 25 imam ahli qira’at selain imam yang tujuh, lalu Ahmad ibn Jubair al-Kufi, Ismail ibn Ishaq al-Maliki murid Qalun salah seorang imam qira’ah, Abu Ja’far ibn Jarir ath-Thabari, lalu Abu Bakar Muhammad ibn Ahmad ibn Umar ad-Dajuni, lalu Abu Bakar ibn Mujahid (w. 324 H) dan masih banyak ulama masa berikutnya yang menyusun buku yang menjelaskan tentang qira’at.


Qurrâ’ yang paling terkenal dari kalangan Sahabat: Utsman, Ali, Ubay ibn Kaab, Zaid ibn Tsabit, Ibn Mas’ud, Abu Darda’, Abu Musa al-Asy’ari, dan semua mereka yang dikirimi mushaf ke berbagai penjuru negeri Islam.


Dari kalangan tabi’in: Di Madinah: Said ibn al-Musayyab, Urwah, Salim, Umar ibn Abdul Aziz, Sulaiman ibn Yasar, Atha’ ibn Yasar, Zaid ibn Aslam, Muslim ibn Jundub, Ibn Syihab az-Zuhri, Abdurrahman ibn Hurmuz, Mu’adz ibn al-Harits dikenal Mu’adz al-Qari’. Di Makkah: Atha’, Mujahid, Thawus, Ikrimah, Ibn Abi Malikah, Ubaid ibn Umair dan lainnya. Di Bashrah: Amir ibn Abdul Qais, Abul ‘Aliyah, Abu Raja’, Nashr ibn ‘Ashim, Yahya ibn Ya’mar, Jabir ibn Zaid, al-Hasan, Ibn Sirin, Qatadah dan lainnya. Di Kufah: ‘Alqamah, al-Aswad, Masruq, Ubaidah, ar-Rubayi’ ibn Khaytam, al-Harits ibn Qais, Umar ibn Surahbil, Amru ibn Maymun, Abu Abdirrahman as-Sulami, Zur ibn Hubaisy, Ubaid ibn Fudhalah, Abu Zur’ah Ibn Amru, Sa’id ibn Jubair, an-Nakha’i, asy-Sya’bi. Di Syam: al-Mughirah ibn Abi Syihab al-Makhzumi pemilik Mushhaf Utsman, Khalid ibn Sa’id murid Abu Darda’ dan lainnya.


Mereka memiliki murid-murid yang sangat banyak. Namun, dari mereka itu para ulama menetapkan tujuh orang yang paling terkenal (dikenal qurrâ’ as-sab’ah); lalu ditambah tiga orang lagi, lalu semuanya disebut qurrâ al-‘asyarah. Mereka (qurrâ as-sab’ah) adalah: 1) Nafi’ (w. 154 H) di Madinah, 2) Abdullah ibn Katsir ad-Dari (w. 120 H) di Makkah, 3) Abu Amru Zaban ibn al-‘Ala’ al-Bashri (w. 154) wafat di Kufah, 4) Ibn Amir asy-Syami (w. 118 H) seorang tabi’in, menjabat qadhi di Damaskus , 5) ‘Ashim al-Kufi (w. 128 H) di Kufah, 6) Hamzah al-Kufi (w. 156 H) di Kufah, 7) Al-Kisai al-Kufi (w. 189 H) di Kufah. Lalu ditambah tiga orang imam qurrâ’ (menjadi qurrâ’ al-‘asyarah) yaitu: 8) Abu Ja’far Yazid ibn Qa’qa’ (w. 132 H) di Madinah, 9) Ya’qub al-Bashri (w. 185 H) di Bashrah dan 10) Khalaf al-Bazar al-Baghdadi (w. 229 H) di Baghdad.


Imam Sarakhsi di dalam Al-Muhadzdzab dan az-Zarqani di dalam Manâhil al-‘Irfân mengatakan bahwa kesepuluh imam qurra’ itu terderivasi jalur-jalur yang mencapai 980 jalur.


Lalu mana qira’ah yang mutawatir? Dalam hal ini az-Zarqani mengatakan, “Tahqiq—yakni yang rajih—adalah pendapat Abu al-Khayr ibn al-Jaziri (w. 833 H) bahwa qira’ah al-‘asyarah yang ada di tengah kita hari ini adalah mutawatir dan yang lain tidak. Ia berkata dalam Munjid al-Muqri’în yang menyatakan bahwa yang pada masa kita ini memenuhi tiga rukun, yaitu kriteria yang masyhur adalah qira’ah imam yang sepuluh yang masyarakat bersepakat menerimanya; generasi khalaf menerimanya dari generasi salaf sampai ke masa kita. Qira’ah salah seorang dari mereka seperti qira’ah yang lain dalam posisinya yang maqthû’ (pasti), yakni mutawatir.”

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post