Tangguh Menghadapi Ujian Hidup


 Romadhon Abu Yafi (Bengkel IDE)



لاَ يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ أَوِ الْمُؤْمِنَةِ فِى نَفْسِـهِ وَفِى مَالِهِ وَفِى وَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ


Ujian akan terus menghampiri orang Mukmin dan Mukminah pada diri, anak dan hartanya hingga ia menjumpai Allah dan tidak ada kesalahan yang harus dia tanggung (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibn Hibban, al-Hakim, al-Baihaqi, Abu Ya’la dan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)


Hadis ini menjelaskan bahwa ujian akan terus menghampiri seorang Mukmin—dalam riwayat lain seorang hamba—selama ia masih bernafas. Bahkan hidup dan mati itu sendiri merupakan ujian untuk mengetahui siapa hamba yang paling baik amalnya (QS al-Mulk [67]: 2).


Balâ’ secara bahasa artinya imtihân wa al-ikhtibâr (ujian dan cobaan). Menurut Ibn al-Atsir dan yang lainnya balâ’ terjadi dalam kebaikan (khayr) dan keburukan (syarr). Makna hadis tersebut adalah bahwa ujian dan cobaan dalam bentuk kebaikan (khayr) dan keburukan (syarr) akan terus menimpa Mukmin dan Mukminah atau hamba pada umumnya (Lihat: QS al-Anbiyâ’ [21]- 35).


Umumnya, orang menilai ujian dan cobaan itu berupa keburukan atau musibah. Jarang sekali kenikmatan dan sesuatu yang baik dinilai sebagai ujian. Namun, nash-nash syariah menjelaskan bahwa semuanya merupakan ujian untuk menguji: apakah kita bisa sabar saat menghadapi musibah dan bersyukur saat mendapat kenikmatan dan kebaikan; apakah kita tetap istiqamah di jalan-Nya dalam dua keadaan itu.


Tidak jarang orang lulus ketika diuji dengan musibah dan kesusahan, namun ia gagal saat diuji dengan kenikmatan dan kesenangan. Kesadaran bahwa kesenangan itu merupakan ujian akan menuntun kita untuk tetap terjaga dan tidak terlena dengan kenikmatan itu lantas kehilangan keistiqamahan dan terjebak dalam menikmati kesenangan itu.


Musibah atau keburukan menimpa juga merupakan ujian apakah kita bersabar menghadapinya dan ridha menerimanya ataukah tidak. Jika kita mampu bersabar maka itu adalah kebaikan yang luas. Sebab, setiap musibah, sekecil apapun, jika kita hadapi dengan kesabaran, bisa menggugurkan dosa dan menaikkan derajat kita di hadapan Allah. Rasulullah saw. pernah bersabda:


لاَ يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً


Tidaklah sebuah duri mengenai seorang Muslim atau lebih dari itu kecuali dengannya Allah mengangkatnya satu derajat dan menghapus darinya satu kesalahan (HR Tirmidzi, Muslim, Ahmad, Ibn Hibban dan al-Baihaqi).


Dalam riwayat lainnya dikatakan: niscaya dengan musibah itu Allah mencatat satu kebaikan baginya. Artinya, ia diberi pahala atas keridhaannya terhadap qadha’, kesabarannya; ia bersyukur dan hanya mengadukan musibahnya kepada Allah SWT.


Karenanya, bagi orang Mukmin semua perkara akan menjadi kebaikan. Rasul saw. bersabda:


عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ


Menakjubkan perkara seorang Mukmin itu karena sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan. Hal itu tidak menjadi milik seorangpun kecuali orang Mukmin. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur. Itulah kebaikan baginya. Jika ditimpa kesusahan ia bersabar. Itu pun merupakan kebaikan baginya (HR Ahmad, Muslim, ad-Darimi, Ibn Hibban dan al-Baihaqi).


Hendaklah kita sadar sepenuhnya, bahwa kedudukan, kecukupan harta, dan berbagai kesenangan lainnya adalah ujian. Semoga kita tak lupa bersyukur dan tetap istiqamah di jalan Allah, tidak terlena dengan kesenangan itu. Hendaknya kita juga selalu sadar bahwa kesusahan, musibah dan berbagai ketidaksenangan yang menimpa merupakan ujian. Hendaknya kita berusaha untuk sabar karena Rasul pernah bersabda:


…وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِىَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ


Siapa saja yang berusaha untuk sabar niscaya Allah akan menjadikannya mampu bersabar. Tidaklah seorang pun diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai, at-Tirmidzi dan ad-Darimi).

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post