Terorisme, Sebuah Definisi Sesuai Selera AS


 Hadi Sasongko (Direktur POROS)


Penggunaan kata terorisme populer di akhir abad ke-18 di Eropa. Belakangan kata itu menjadi istilah yang sangat populer, terutama pada beberapa dasawarsa terakhir, khususnya pasca runtuhnya Uni Soviet dan tragedi WTC 11/9/2001.


Prof. M. Cherif Bassiouni, ahli Hukum Pidana Internasional, menyatakan bahwa untuk mendefinisikan “terrorism” dalam bentuk definisi yang bisa diterima oleh semua dan tidak ambigu adalah sangat sulit, jika bukan mustahil. Kesulitan mendasar adalah nilai yang dipertaruhkan dalam penerimaan atau penolakan terhadap inspirasi-teror kekerasan sebagai alat mencapai tujuan tertentu. Adanya rentang pandangan pada masalah itu menjadikan pembuatan definisi yang spesifik dan diterima secara internasional atas apa yang secara longgar disebut “terrorism”, hampir merupakan usaha yang mustahil.


PBB berusaha merumuskan definisi terorisme yang bisa diterima oleh semua secara internasional dan fair pada tahun 1972-1979 dan tahun 2000 – 2004 namun semuanya gagal. Walhasil hingga sekarang tidak ada definisi terorisme yang bisa diterima oleh semua secara internasional. Negara-negara, organisasi dan ahli berusaha menyodorkan definisi maisng-masing. Hingga saat ini bisa ditemuan lebih dari 100 definisi tentang terorisme.


Oleh karena itu menurut Prof. Brian Jenkins, Phd., istilah terorisme merupakan pandangan yang subjektif. Jadi tiap negara mendefinisikan terorisme dipengaruhi oleh kepentingan masig-masing baik ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan kepentingan lainnya. Lalu definisi itu dimasukkan dalam peraturan perundang-undangan negara itu dan dipakai dalam kebijakan dan implementasinya. Akibatnya istilah terorisme justru dijadikan alat oleh negara-negara besar khususnya AS demi kepentingannya sendiri.


Anehnya, meski tidak ada definisi yang disepakati dan diterima oleh semua, tapi disepakati bahwa terorisme adalah tindakan pidana yang tak biasa dan harus diperangi secara gobal. Akibatnya dalam opini dan praktek kontra terorisme secara global, yang berlaku adalah kekuatan otot dan pengaruh. Dalam arti negara-negara besar mendektekan kampanye dan aksi kontra terorisme menurut versinya yang tentu lebih mengabdi kepentingan negara besar itu. Akibatnya yang terjadi malah terorisme negara, dan mengakibatkan ketidakadilan dan kezaliman secara luas pada tingkat global. Kaum muslimlah terutama yang jadi korban dan terzalimi.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post