Tolong Jangan Ada Sertifikasi Ulama!


 Suro Kunto (Ketua SPBRS) 


Rencana Menag untuk melakukan proyek sertifikasi ulama menuai protes. Siapa yang layak memberikan sertifikasi mubaligh? Sayyidina Ali bin Abi Thalib menyatakan, “Tidak akan ada yang tahu kemuliaan ahli ilmu (ulama), kecuali orang yang mempunyai kemuliaan.”(Lihat, Al-Mawardi,Adab ad-Dunya wa ad-Din,hal. 48). Siapakah “orang yang mempunyai kemuliaan” yang pantas memberikan predikat keulamaan kepada para ulama itu? Apakah Kementerian Agama pantas memberikannya? Apakah Majelis Ulama’ Indonesia? Ataukah yang lain? Tidak ada yang pantas.


Mungkin memberi predikat ulama bagi orang yang berilmu mudah, tetapi predikat ulama bagi orang yang paling takut kepada Allah, siapa yang bisa?Karena itu, ide sertifikasi ini, hanya pantas disampaikan oleh orang bodoh. Seperti kata al-Mawardi,“Hanya orang bodoh yang tidak mengerti kemuliaan ilmu (dan ahlinya). Karena kemuliaannya hanya diketahui dengan ilmu. Ketika orang bodohtidak mengetahui ilmu yang membuatnya tahu akan kemuliaan ilmu, maka tentu dia pun tidak akan pernah mengerti kemuliaannya, dan akan menghinakan ahlinya…”(Lihat, Al-Mawardi,Adab ad-Dunya wa ad-Din,hal. 24).


Secara sistem, Khilafah membuka kesempatan seluas-luasnya untuk menuntut ilmu, baik ilmu sains maupun tsaqofah Islam. Namun, seiring proses pendidikan yang berjalan, output yang diperoleh dari proses pendidikan tersebut menunjukkan bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang layak menjadi ulama. Ini karena kemampuan dan intelektualitas setiap orang berbeda-beda. Dalam perkara penggalian hukum saja, ada kalangan yang disebut mujtahid, dan ada yang disebut muqallid. Ini sudah menunjukkan bahwa kapasitas berpikir tiap orang memang tidak sama.


Orang berilmu itu memang orang-orang pilihan. Orang-orang yang menyampaikan ilmu Islam bukanlah orang sembarangan. Jadi yang akan menjadi penceramah, ulama, atau pun kyai, juga hanya orang-orang tertentu saja. Akan sangat terminimalisasi munculnya orang pandir (bodoh) yang begitu sok tahu dengan suatu bidang keilmuan, meski dalam Islam dianjurkan untuk menyampaikan ilmu yang dimiliki walau hanya satu ayat.


Jadi, tidak bisa disangkal, bahwa ulama kaum Muslim mempunyai kedudukan yang istimewa, bukan hanya bagi umat Islam tetapi juga non-Muslim. Tanpa ulama, kehidupan umat manusia akan senantiasa dalam kebodohan, sehingga mereka dengan mudah diperdaya oleh syaitan, baik dari kalangan manusia maupun jin.


Sebaliknya, dengan adanya ulama di tengah-tengah mereka, kehidupan mereka pun diterangi ilmu dan hidayah Allah Swt. Melalui jasa para ulama, pemikiran yang sesat bisa dibongkar, dikalahkan dan pada akhirnya ditinggalkan umat. Kabut keraguan hati dan jiwa pun berhasil disingkap, karena jasa-jasa mereka. Tepat sekali apa yang disabdakan Nabi saw: “Perumpamaan ulama di muka bumi ini ibarat bintang di langit, yang digunakan untuk mendapatkan petunjuk di tengah kegelapan darat dan lautan.” (HR. Ahmad).


Pendek kata, keberadaan ulama ini merupakan nikmat Allah bagi penghuni bumi. Karena mereka adalah pewaris Nabi, penyambung lidah Nabi, pengemban  kebenaran dan hujah Allah di muka bumi. Tentu itu semua berlaku bagi para ulama pejuang yang berpegang teguh pada kebenaran, hanya takut kepada Allah, tidak takut kepada siapapun dalam menyampaikan kebenaran. Mencintai kebaikan, menegakkan kemakrufan, mencegah kemunkaran, mengoreksi penguasa, memberi nasihat kepada mereka, matanya selalu tergaja terhadap kepentingan kaum Muslim. Mereka juga siap menanggung resiko dan kesulitan apapun dalam memperjuangkan agamanya. Di situlah kemuliaan ulama, yang dipuji oleh Allah: “Sesungguhnya orang yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.”(QS Fathir [35]: 27).


Perlu dicatat, bahwa predikat ulama dan kemuliaan yang melekat kepadanya diperoleh, selain karena faktor keilmuannya, juga karena sikap mereka dalam mengemban dan menerapkan ilmunya. Mereka menjadi penjaga Islam, amanah terhadap agama Allah. Mereka menyerukan para penguasa untuk menerapkannya dengan tulus, jujur dan jauh dari kepentingan pribadi, harta atau jabatan. Mereka berani mengatakan kepada orang yang zalim, “Anda zalim.” Berani mengatakan kepada ahli maksiat, “Kalian maksiat kepada Allah.”


Mereka seperti Sufyan at-Tsauri, Imam Ahmad, Ibn Taimiyyah, ‘Izzuddin ibn Salam dan yang lain. Mereka dikenang oleh umat, bukan semata karena keilmuannya, tetapi karena sikapnya.Jadi, predikat dan kemuliaan mereka sebagai ulama diperoleh bukan dari sertifikasi penguasa, tetapi karena ilmu dan sikap mereka di tengah-tengah umat. Sebaliknya, betapa banyak kita saksikan mereka yang masuk dalam wadah “Majelis Ulama” dan dengan bangga menyandang predikat ulama, tetapi tidak dihargai, dan bahkan tidak diakui oleh umat sebagai ulama. Kalau pun mereka diakui sebagai ulama, cap mereka pun jelek,“Ulama Salathin(ulama penguasa)”, atau“Ulama Su’ (ulama’ jahat)”, dan sebagainya.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post