Agar Jiwa Anak - Anak, Tidak Hoyag - Hayig


 Romadhon Abu Yafi (Pengasuh Bengkel IDE)


Di tengah pembelajaran online saat ini, para orangtua dan pendidik khawatir,  tentang tantangan game online yang berpengaruh pada kejiwaan anak. Banyak sekali anak dan remaja menyukai game offline termasuk online. Dikabarkan situs GirlsgoGames.com pernah merilis laporan yang menyatakan bahwa, sekitar 50% anak perempuan berusia 8 hingga 12 tahun, mulai ketagihan pada games sosial dan hiburan di internet.


Sesuatu yang berlebihan, memang tidak baik. Saat anak - anak yang kecanduan game akan mudah emosional, berperilaku lebih agresif dan mudah marah, apalagi jika dipaksa melepaskan kesenangannya itu. Mereka jadi gampang mengucapkan kata-kata kasar dan kotor, terutama bila gagal menaklukkan "lawannya" di layar hp atau monitor laptop, atau game terhenti di tengah jalan.


Padahal, pada umumnya anak usia prasekolah, belum memahami benar arti kata yang ia ucapkan. Anak juga belum memahami apakah kata-kata itu pantas atau tidak pantas, untuk diucapkan. Ketika anak mengatakan kata kasar atau kotor, bukan bermaksud memaki, tetapi semata-mata hanya sekadar meniru. 


Perilaku suka meniru tersebut,  melekat pada anak usia prasekolah. Apa yang dilihat atau didengar di lingkungannya, akan ditiru anak. Begitu ada sesuatu yang baru di lingkungan, termasuk kata kasar atau jorok, akan cepat diadposinya. Kemampuan anak prasekolah memelajari hal baru berkembang dengan pesat. Anak begitu bersemangat mengekplorasi berbagai hal, di lingkungan.


Inilah pentingnya, pendidikan karakter anak secara baik. Pembentukan jiwa dilakukan dengan cara memberikan perhatian dan kasih sayang dalam bentuk langsung yang terasa secara fisik, seperti: ciuman dan belaian; bermain dan bercanda dengan mereka; menyatakan rasa sayang dengan lisan. 


Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya Al-Adab al-Mufrad bahwa Abu Hurairah ra. berkata, “Saya mendengar dengan kedua telingaku dan melihat dengan kedua mataku, Rasulullah saw. memegang dengan kedua tangannya kedua telapak cucunya, Hasan dan Husain. Kedua telapak kaki mereka di atas telapak kaki Rasulullah saw.  Kemudian beliau berkata, ‘Naiklah.’ Lalu keduanya naik hingga kedua kaki mereka berada di atas dada Rasulullah saw.  Kemudian beliau berkata, ‘Bukalah mulutmu.’  Kemudian beliau menciumnya dan berkata, ‘Ya Allah saya mencintainya dan sungguh saya mencintainya.’"


Selain hal tersebut, bisa dilakukan dengan cara memberi mereka hadiah, penghargaan dan pujian.  Ini dapat memberi pengaruh besar pada rasa saling berkasih sayang antara orangtua dan anak, serta akan membentuk jiwa yang lembut pada mereka. Rasulullah saw. pernah membagi manisan kepada anak-anak yang turut shalat ashar bersama beliau.  Bahkan beliau memberi tambahan bagian kepada mereka.  Cara lain membentuk jiwa anak adalah menyambut mereka dengan penuh kehangatan.


Sambutan penuh hangat akan membuka jiwa mereka dan akan memudahkan mereka untuk mengungkap-kan permasalahannya.


Sering menanyakan dan memperhatikan keadaan mereka adalah cara lain membentuk jiwa anak.  Sikap tanggap orangtua, punya peran besar dalam mengatasi persoalan mereka.  Suatu hari Ummu Aiman melaporkan bahwa Hasan dan Husain hilang. Rasulullah saw. langsung meminta beberapa Sahabat, untuk mencari ke berbagai arah.  Ketika ditemukan, Hasan dan Husain sedang berpelukan ketakutan karena di depan mereka ada ular.  Rasulullah saw. segera mengusir ular tersebut dan mendatangi kedua cucu beliau, melepaskan rangkulan mereka dan mengusap kepala mereka sambil berkata, “Demi ibu dan ayahku, semoga Allah memuliakan kalian.”  Kemudian beliau menggandeng mereka dan berkata, “Sebaik-baik penunggang adalah mereka berdua.”  Ini beliau lakukan untuk menghilangkan ketakutan mereka agar jiwanya kembali stabil dan tenang. 


Perlakuan yang baik terhadap anak akan memberikan ketenangan kepada mereka, mendekatkan hubungan orangtua dan anak sehingga setiap masalah yang mereka hadapi dapat segera diselesaikan. Anak yang jiwanya dipenuhi perhatian dan kasih sayang akan memperlakukan orang lain, dengan kasih sayang pula.


Pendidikan karakter sebagaimana yang diuraikan diatas, merupakan solusi menguatkan jiwa anak - anak agar kokoh, dan tidak mudah hoyag - hayig. Dah hal tersebut merupakan kebutuhan para orang tua dan para pendidik, yang menginginkan generasi kuat dimasa depan.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post