Bekal Bagi Anak Saat Tahun Ajaran Baru Tiba


 Romadhon Abu Yafi (Bengkel Inspirasi Dan Edukasi)


Hmm... Tahun ajaran baru tiba. Hampir dua tahun, anak-anak belajar online di rumah, tidak lagi bersekolah secara konvensional. Kebijakan ini dilakukan sebagai solusi sementara agar anak dapat tetap bersekolah di tengah wabah Covid-19.


Namun, kebijakan ini bukan tanpa resiko, ada dampak minus seperti meningkatnya rasa bosan belajar pada anak didik. Rasa jenuh, bosan bahkan malas belajar merupakan salah satu gangguan umum yang anak-anak hadapi ketika bersekolah secara langsung. Anak malas belajar sebenarnya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Inilah sebabnya para orangtua sebaiknya tidak langsung marah atau menyalahkan anak ketika ia merasa bosan belajar.


Terlebih setiap orang tua pasti menghendaki kesuksesan anak-anaknya, terutama dalam hal pendidikan.  Pada semua jenjang pendidikan –mulai dari usia dini hingga perguruan tinggi- kesiapan awal menapaki bangku sekolah/kuliah, sangat menentukan kesuksesan pendidikan pada masa selanjutnya.  Dan untuk semua itu, peran ayah - ibu tentu sangat besar.


Namun demikian, tidak sedikit orang tua yang menyepelekan persoalan ini.  Merasa anak sudah mendapatkan sekolah atau tempat kuliah, ibu lantas mencukupkan diri dengan perasaan tenang.  Seakan-akan anak pasti lebih baik, lebih pintar, lebih sholih, dan sebagainya.  Hal yang sama juga terjadi tatkala liburan sekolah usai dan sang buah hati sudah kembali ke sekolah.  Mereka merasa lega, karena tugas mengawasi anak tidak lagi membebani mereka.  Tanggung jawab itu dianggap telah beralih ke sekolah.


Sungguh, masa awal tahun ajaran adalah masa yang amat krusial bagi anak. Amat disayangkan jika pada masa ini mereka menyimpan masalah. Nah, tentu orangtua bisa mempersiapkan agar masa kritis tersebut dapat dilalui anak dengan baik, sehingga mereka dapat meraih harapan dari proses pendidikan yang tengah dijalaninya.


Misalnya ibu adalah sosok terdekat bagi anak yang memegang peranan penting bagi keberhasilan pendidikan mereka di masa depan. Dibandingkan ayah, ibu memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk mengarahkan anak-anaknya.  Sebagai orang tua, ibu (juga ayah) tidak hanya berkewajiban untuk membiayai, atau memilihkan sekolah bagi anaknya.  Ibu juga berkewajiban untuk mengawal seluruh proses pendidikan yang berlangsung pada anak-anaknya.


Bagi anak usia dini hingga menjelang baligh, kedekatan ibu dengan anak begitu tinggi.  Pada usia ini, ibu harus memanfaatkan waktunya untuk senantiasa mengontrol secara intensif.  Sebab, pada umumnya mereka masih berada di sekitar ibu.  Biasanya, masa awal tahun ajaran memberikan pengalaman khusus bagi anak.  Oleh karenanya, dampingan ibu tentu sangat dibutuhkan.


Adapun bagi anak yang telah memasuki usia baligh, kondisinya agak berbeda.  Bisa jadi mereka berada pada jarak (posisi) cukup jauh dari ibu.  Misalnya, jika mereka harus berada di asrama, atau sudah mulai terbiasa melakukan perjalanan sendiri ke sekolah.  Pada masa ini, bukan berarti ibu bisa angkat tangan untuk tidak memperhatikan proses pendidikan anaknya.  Pada kondisi ini pun ibu tetap memiliki peran, terlebih pada masa-masa kritis seperti ini.


Ada beberapa perkara yang harus dipersiapkan ayah dan ibu saat anak memasuki sekolah kembali. 


Pertama, memahami hakikat pendidikan. Orangtua harus memahami bahwa pendidikan yang sedang ananda rintis dan jalani bukanlah ditujukan untuk meraih gelar, jabatan sosial atau pekerjaan.  Pendidikan hakikatnya adalah proses untuk senantiasa tumbuh dan berkembang dalam pembentukan kepribadian (Islami), penguasaan tsaqofah (Islam), ilmu-ilmu saintek dan ilmu terapan (kehidupan).  Kerangka berpikir seperti ini penting bagi Orangtua terutama untuk mengarahkan target pendidikan anak-anaknya.


Kedua, memahami tantangan yang bakal dihadapi anak.  Memasuki jenjang pendidikan baru, berarti anak mendapatkan lingkungan baru.  Maka, tantangan pun baru.  Bagi anak remaja, perhatian ibu tentu sangat diperlukan mengingat kondisinya yang cukup rentan terpengaruh lingkungan dan teman.  Tantangan lain yang biasa dihadapi anak juga berbentuk pola atau sistem belajar yang baru.  Apalagi dalam sistem kapitalis saat ini, ketika kurikulum dan metode pembelajaran sering berganti.  Maka orangtua selayaknya memiliki pengetahuan yang cukup tentang pola pembelajaran di sekolah yang senantiasa berubah.  Dengan kata lain, orangtua harus memahami tatangan yang akan dihadapi anak pada setiap kurun pendidikannya.


Ketiga, memilihkan teman. Sekolah baru, kelas baru, maka teman pun baru. Beberapa ketidaknyamanan mungkin akan dihadapi anak, seperti canggung atau takut bergaul dengan teman barunya.  Atau bahkan anak terancam mendapatkan pengaruh buruk dari teman barunya.  Semua hal di atas harus menjadi perhatian orangtua, hingga bisa dipastikan anak mendapatkan teman yang baik bagi proses pendidikannya di sekolah.


Keempat, memilihkan bacaan yang baik. Tahun ajaran baru, maka buku pelajaran pun baru.  Dalam sistem pendidikan sekuler saat ini, bukan tidak mungkin beredar buku-buku yang tidak layak dikonsumsi anak karena pertentangannya dengan Syariah Islam. Maka tugas orangtua pada masa itu adalah mengawasi dan memberikan alternatif buku-buku pendukung belajar yang baik dan sesuai kemampuan anak .


Kelima, memotivasi anak.  Penyakit yang sering muncul pada anak (terutama usia dini dan pra baligh) adalah ketakutan melalui jenjang pendidikan yang baru.  Ada pula yang takut menemui guru baru atau teman baru bahkan ruangan baru.  Bagi anak-anak yang pertama kali bersekolah, misalnya memasuki play group atau TK, pengalaman berpisah cukup lama dengan orangtua bisa menjadi hal yang mencemaskan anak-anak.  Sedangkan bagi yang sudah agak besar, pengalaman menghadapi guru galak, dimarahi atau ditegur guru kerap menghinggapi anak saat mendapatkan kelas baru.  Akibatnya anak kurang percaya diri memasuki tahun ajaran baru. Maka sungguh, tidak ada tugas ibu yang lebih baik pada saat itu kecuali memotivasi anak dan mengarahkannya agar ia dapat menyesuaiakan diri pada lingkungan baru.  orangtua harus mampu membangun optimisme, bahwa masa depan pendidikan harus diraih meski harus dengan perjuangan yang amat berat.


Keenam, tidak membebani anak dengan target yang muluk-muluk.  Orangtua tentu memiliki harapan khusus kepada anak-anak.  Namun demikian, ibu tidak boleh terlalu berambisi.  Orangtua juga harus melihat kondisi anak.  Setiap anak itu unik.  Seorang anak memiliki metode dalam mencerna semua bentuk pendidikan dengan caranya sendiri yang mungkin berbeda dengan yang lain.  Semua tergantung kemampuan inderanya, kapasitas organ otaknya, dan kemampuan mengikat antara fakta dengan informasi yang pernah mereka dapatkan sebelumnya. Di samping itu, mereka juga tumbuh dengan lingkungannya.  Faktor-faktor tersebut hendaklah diperhatikan sehingga orangtua tidak bertarget di luar kapasitas anak.


Ketujuh, menyiapkan mental.  Menjadi orangtua yang mampu menghadapi segala keadaan anak adalah tugas yang harus senantiasa disiapkan.  Ia tidak begitu saja datang, kecuali jika orangtua membiasakan diri untuk selalu membina diri dengan berbagai bekal.  Modalnya adalah membiasakan diri untuk senantiasa menambah ilmu (dan tsaqofah Islam), mengetahui kondisi masyarakat  termasuk sistem pendidikan yang tengah berlangsung, membiasakan bersikap sabar, berani, istoqomah dan tawakkal kepada Allah SWT.


Sungguh, semua itu adalah kewajiban yang amat mulia.  Sebab, dengan aktivitas itulah ia akan mendapat curahan pahala dari Allah SWT yang tiada putus.  Ini karena anak-anak yang didampinginya menjadi anak-anak sholih yang senantiasa berkomitmen pada proses pendidikan menuju terbentuknya sumber daya manusia yang handal, modal membangun peradaban paripurna.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post