Idul Adha 1442 H Momentum Menyatukan Umat




 Achmad Fathoni (Direktur HRC)


Alhamdulillah. Sepantasnya kita bersyukur kepada Allah SWT. Berkat karunia-Nya kita akan bertemu lagi dengan hari raya terbesar bagi umat Islam. Itulah Idul Adha atau Idul Kurban. Pada hari itu umat Islam di seluruh dunia mengemakan takbir, tahlil dan tahmid sebagai umat yang satu. Satu akidah, satu syariah, satu kiblat dan satu syiar. 


Sebelum pandemi covid-19, kaum Muslim menunaikan ibadah haji. Mereka bersatu di tempat yang sama, dengan pakaian yang sama, dengan syiar yang sama, dengan syariah yang sama dan tujuan yang sama, yaitu mewujudkan ketaatan kepada Allah SWT. Semoga pemandangan ketaatan dan persatuan ini bukan hanya kita lihat hanya pada hari itu, tetapi juga pada hari-hari yang lain.


Ibadah Qurban mengingatkan kita akan ketaatan mutlak keluarga Nabi Ibrahim as. Pertama: Ketaatan Ibrahim as. kepada Allah SWT yang telah memerintahkan beliau untuk meninggalkan istri dan putranya tercinta di lembah gersang tanpa tumbuhan (HR al-Bukhari dari Ibn ‘Abbas); juga ketaatan beliau kepada Allah SWT yang telah memerintahkan beliau untuk menyembelih putranya tercinta, yang telah dinanti sejak lama.


Kedua: Ketaatan istri beliau, yakni Hajar, saat ditinggal sendiri bersama putranya, Ismail as., di padang pasir tandus, tanpa siapapun yang menemani di sana (HR al-Bukhari).


Ketiga: Ketaatan putra beliau, yakni Ismail as., yang dengan sabar dan berserah diri menerima perintah Allah SWT meski perintah itu akan berakibat hilangnya nyawanya. Ismail as. bahkan berkata kepada ayahnya:


﴿يآ أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِيْ إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ﴾


Ayah, laksanakanlah apa yang telah diperintahkan kepada engkau. Insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar (TQS ash-Shaffat [37]: 206).

 

Seperti itulah ketaatan sejati seorang Muslim kepada Allah SWT; sebuah ketaatan mutlak, tanpa batas.


Ketaatan mutlak ini pun ditunjukkan oleh jamaah haji. Saat menunaikan rangkaian manasik haji, mereka tidak mempertanyakan: mengapa harus begini dan mengapa harus begitu? Semua rangkaian ibadah haji itu mereka tunaikan dengan penuh ketundukan dan kepatuhan total kepada Allah SWT yang telah menetapkan tatacara manasik haji meski tidak mereka pahami. Seharusnya ketaatan mutlak semacam ini pun diwujudkan oleh kaum Muslim dalam seluruh aspek kehidupan mereka.


Seorang Muslim akan meyakini bahwa di balik ketaatan menjalankan semua syariah-Nya pasti ada kebaikan. Allah SWT tidak akan akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang taat menjalani syariah-Nya. Sebagaimana perkataan Hajar, istri Nabi Ibrahim as.:


إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا اللهُ


“Kalau begitu, Allah pasti tak akan menyia-nyiakan kita.” (HR al-Bukhari).

 

Allah SWT juga berfirman dalam hadis qudsi:


وَإِنِّيْ إِذَا أُطِعْتُ رَضِيْتُ، فَإِذَا رَضِيْتُ بَارَكْتُ وَالْبَرَكَةُ مِنِّيْ تُدْرِكُ اْلأُمَّةَ بَعْدَ اْلأُمَّةِ


Sesungguhnya Aku, jika ditaati, pasti Aku ridha. Jika aku telah ridha, pasti Aku memberikan keberkahan. Keberkahan-Ku itu akan dirasakan oleh umat demi umat (HR Ibn Abi Hatim).

 

Jika Allah SWT pasti memuliakan orang taat kepada-Nya, maka sebaliknya, Dia akan menghinakan orang yang maksiat kepada-Nya dan berbuat zalim.


﴿وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا﴾


Sungguh, pasti merugi orang yang melakukan kezaliman (TQS Thaha [20]: 111).

 

Karena itu segala malapetaka, krisis multidimensi dan berbagai keterpurukan yang kini menimpa umat Islam adalah karena mereka tidak taat secara total kepada Allah SWT. Musibah dan krisis yang menimpa negeri ini dan negeri-negeri kaum Muslim adalah karena mereka berpaling syariah-Nya. Allah SWT berfirman:


﴿فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أّنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ أَنْ يُّصِيْبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوْبِهِمْ﴾


Jika mereka berpaling (dari syariah-Nya), ketahuilah bahwa Allah bermaksud menimpakan musibah kepada mereka akibat sebagian dosa-dosa mereka (TQS al-Maidah [5]: 49).

 

Ketaatan kepada Allah SWT secara total dengan menjalankan syariah-Nya adalah jalan yang harus kita tempuh untuk keluar dari segala keterpurukan. Jalan ini memang terjal dan penuh tantangan. Namun, yakinlah bahwa di balik ketaatan pasti ada kebaikan; yakinlah bahwa di mana saja syariah-Nya ditegakkan, pasti di situ ada kemaslahatan. Kaidah ushul-nya mengatakan:


حَيْثُمَا يَكُوْنُ الشَّرْعُ تَكُوْنُ المَصْلَحَةُ


Di mana saja syariah ada (diterapkan), pasti di situ ada (terwujud) kemaslahatan.

 

Ketaatan kepada Allah SWT secara total dengan menjalankan syariah-Nya dalam seluruh aspek kehidupan hanya bisa dilaksanakan jika kaum Muslim memiliki kekuasaan (pemerintahan Islam) yang berfungsi sebagai kiyân tanfîdzi (institusi pelaksana) bagi hukum-hukum Islam. Tanpa Khilafah, ketaatan hanya akan menjadi ketaatan semu dan parsial. Betapa pentingnya kekuasaan ini, Allah SWT memerintahkan Rasulullah saw. untuk berdoa:


﴿وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا﴾


Jadikanlah, ya Allah, bagiku dari sisi-Mu kekuasaan yang selalu menolong (TQS al-Isra’ [17]: 80).

 

Terkait ayat ini, Ibn Katsir berkata, “Qatadah berkata tentang ayat ini, ‘Sesungguhnya Nabi Allah saw. tahu bahwa beliau tidak memiliki kekuatan atas agama ini kecuali dengan kekuasaan. Karena itu beliau memohon kekuasaan yang bisa menolong Kitab Allah; kekuasaan yang bisa menolong hukum-hukum-Nya; kekuasaan yang bisa menolong (pelaksanaan) kewajiban-kewajiban-Nya; dan kekuasaan yang bisa menolong untuk menegakkan agama-Nya.’”

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post