Idul Adha Dan Renungan Perlawanan


Ilham Efendi (Direktur HRC)


Untuk Indonesia, jamaaah haji belum bisa diberangkatkan, dengan kondisi masih ledakan covid-19. Pada hari raya idul kurban ini, kita rindu akan kembalinya jutaan kaum Muslim dari seluruh penjuru dunia yang berkumpul di Makkah al-Mukarramah untuk menunaikan ibadah haji. Mereka disatukan di tempat yang sama, dengan pakaian yang sama, dengan tatacara manasik yang sama dan dengan syiar yang sama:


لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ


“Ya Allah, kami memenuhi panggilan-Mu, kami memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”


Sayang, saat ini umat Islam sedunia baru bisa bersatu pada saat menunaikan ibadah haji. Setelah itu, saat umat Islam kembali ke negerinya masing-masing, mereka kembali dipecah-belah dengan nasionalisme sempit. Mereka kembali diceraiberaikan oleh perbedaan mazhab. Mereka kembali berselisih karena berbeda organisasi dan kepentingan. Mereka lemah dan tak berdaya akibat fanatisme kesukuan dan nasionalisme.


Akibatnya, umat Islam menjadi umat yang lemah, tidak berwibawa dan tidak diperhitungkan oleh musuh-musuhnya. Kaum Yahudi terus-menerus mengusir dan membantai saudara-saudara kita di Palestina. Saudara-saudara kita di Rohingya terus-menerus dihinakan oleh kaum Budha radikal. Saudara-saudara kita, para pejuang Islam di Uzbekistan, terus-menerus menjadi korban kebiadaban rezim durjana. Begitu juga di negeri kita yang mayoritas penduduknya Muslim ini, umat Islam terus-menerus dilecehkan dan didipinggirkan.


Bahkan di bekas jantung Negara Khilafah, Suriah dan Irak, kaum Muslim pun tidak aman. Darah, harta dan kehormatan mereka begitu murah. Sesama Muslim saling bunuh demi kepentingan penjajah. Bertahun-tahun mereka hidup dihantui ketakutan yang luar biasa. Ratusan ribu penduduknya—tua-muda, pria-wanita—berbondong-bondong meninggalkan negerinya, entah ke mana. Di Eropa mereka terdampar tanpa arah dan terlunta.


Mengapa fenomena menyedihkan ini terus-menerus menimpa umat ini? Sampai kapan umat Muhammad saw. ini akan terus-menerus bercerai-berai? Sampai kapan kita akan menjadi bulan-bulan kaum kafir durjana? Sampai kapan kita akan menjadi umat yang kerdil dan tidak berwibawa?


Keterpecah-belahan umat ini tidak akan terjadi jika umat memiliki payung dan pelindung. Umat Islam tidak akan menjadi umat kerdil dan kecil jika umat ini bersatu di bawah naungan Khilafah. Umat Islam akan menjadi umat yang kuat dan kembali menjadi umat terbaik (khayru ummah) jika bersatu di bawah naungan satu dawlah (negara), Daulah Khilafah Rasyidah ‘ala Minhajin Nubuwwah. Al-Imam al-Jalil Syaikh Izzuddin bin ‘Abdissalam yang dikenal dengan julukan Sulthan al-Ulama pernah mengatakan:


لَوْلاَ الْخِلاَفَةُ لَمْ تَأْمَنْ لَنَا سُبُلٌ # وَكَانَ أَضْعَفُنَا نَهْبًا ِلأَقْوَانَا


Jika Khilafah tiada, jalan-jalan tak kan aman bagi kita

Orang lemah jadi santapan orang kuat di antara kita

 

Jauh sebelumnya, Hanzhalah bin Shaifi al-Katib, salah seorang sekretaris Nabi saw., pernah berkata saat ada fitnah untuk menggulingkan Khalifah Ustman bin Affan:


عَجِبْتُ لِمَا يَخُوْضُ النَّاسُ فِيْهِ # يَرُوْمُوْنَ الْخِلاَفَةَ أَنْ تَزُوْلاَ

لَوْ زَالَتْ لَزَالَ الْخَيْرُ عَنْهُمْ # وَلاَقُوْا بَعْدَهَا ذُلاَّ ذَلِيْلاً


Aku heran dengan apa diobrolkan manusia


Mereka ingin Khilafah lenyap


Padahal jika Khilafah lenyap, kebaikan dari mereka pun lenyap


Setelah itu mereka akan hina-dina

 

Akhirnya, sebagai renungan hari Raya Idul Adhha kali ini, marilah kita bersatu-padu menyatukan tekad dan tujuan kita menuju kemuliaan Islam dan kaum Muslim. Marilah kita bergabung dalam barisan para pejuang Islam untuk mengembalikan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah Rasyidah yang telah dijanjikan oleh Allah SWT dan diberitakan oleh Rasulullah saw. 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post