Indonesia Turun Kasta, Kapitalisme Ambruk dan Islam Solusinya


 Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 


Menurut laporan Bank Dunia per 1 Juli 2021, Indonesia mengalami turun kasta. Indonesia menjadi negara dengan Pendapatan Nasional Bruto (GNI) sebesar 3.870 US dollar. Artinya Indonesia menjadi negara dengan pendapatan nasional menengah ke bawah (low middle income). Sebelumnya Indonesia termasuk negara dengan pendapatan menengah ke atas (upper midle income) dengan GNI sebesar 4.050 US dollar.


Deputi Bank Indonesia menyatakan bahwa pandemi Covid-19 ini yang menjadi penyebab utama Indonesia masuk kategori low middle income. Menurutnya pandemi telah menjadikan perekonomian terkontraksi.


Mencermati keadaan perekonomian Indonesia sebelum maupun saat terjadi pandemi Covid-19, tentu akan terlihat tidak sepenuhnya gegara pandemi lantas perekonomian Indonesia merosot. Hal ini bisa dilihat dari beberapa hal berikut ini. 


Pertama , Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 hingga ke 2020 sudah mengalami penurunan. Kuartal I dan II tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kisaran angka 5,02 persen. Sedangkan pada kuartal III di 2019 turun menjadi 4,97 persen. 


Anehnya GNI Indonesia yang berdasarkan pendapatan per kapita masuk kategori upper middle income (negara dengan pendapatan menengah ke atas) di 2019 hingga pertengahan tahun 2020. Pada periode tersebut dengan GNI sebesar 4.050 US dollar. Jadi asas pendapatan per kapita tidak menggambarkan kemajuan perekonomian dan kesejahteraan sebuah negara. Hal demikian bisa terlihat dari survei TNP2K (Tim Nasional Percepatan dan Penanggulangan Kemiskinan) pada 2019 bahwa 1 persen orang kaya di Indonesia telah menguasai 50 persen aset kekayaan nasional. Orang-orang kaya ini telah menyumbang angka GNI Indonesia hingga mencapai level upper middle income.


Kedua, Angka kemiskinan di Indonesia relatif masih tinggi. Tahun 2012, angka kemiskinan sebesar 29,25 juta. Tahun 2013 sebesar 28,17 juta. Tahun 2016 sebesar 28,01 juta. Sedangkan hingga tahun 2019, angka kemiskinan sebesar 25,14 juta. Dari sini terlihat mengalami penurunan angka kemiskinan. Padahal antara periode 2016-2018 masih terdapat 22 juta penduduk yang kelaparan. Sedangkan pada September 2020 angka kemiskinan sebesar 27,55 juta. 


Dari beberapa data tersebut bisa dipahami bahwa angka kemiskinan Indonesia yang masih berada di atas 25 juta penduduk. Ini masih menggunakan standar pendapatan rata-rata Rp 450 ribu per bulan atau Rp 15 ribu per hari. Tentunya angka kemiskinan akan semakin besar bila menggunakan standar pendapatan 2 US dollar per hari (dengan kurs Rp 14 ribu).


Ketiga, eksploitasi kekayaan alam Indonesia oleh korporasi asing masih terus terjadi baik sebelum maupun sesudah pandemi. PT Freeport Mc Moran masih mengangkangi tambang emas di Papua. Blok cepu masih dikangkangi oleh Exxon Mobile. Dan masih banyak lagi SDA yang dikangkango oleh korporasi. Padahal mestinya SDA tersebut bisa dipakai menutupi beban APBN di masa pandemi. Bukan malah mengenakan berbagai macam pajak dan pungutan kepada rakyat guna menutup beban keuangan negara.


Keempat, budaya utang masih tetap dilestarikan. Bahkan atas nama penanggulangan Covid-19, dana yang dianggarkan mencapai Rp 700 trilyun. Ternyata tidak memberikan dampak pada turunnya kasus Covid-19 di negeri ini. Malah alokasi untuk pemulihan ekonomi lebih besar dibandingkan menangani urusan kesehatan. Ironinya, dana bansos Covid pun dikorupsi. 


Utang negara yang menumpuk hingga Rp 6000 trilyun lebih tidak berimbas kepada kesejahteraan masyarakat. Justru hanya menjadi beban negara. Bunga utang untuk tahun 2021 adalah sebesar Rp 373 trilyun. Lagi-lagi rakyat yang harus menanggung utang tersebut.


Dampak Indonesia Turun Kasta


Bima Yudhistira, ekonom INDEF menyebutkan adanya beberapa dampak dari Indonesia yang terkategori negara berpenghasilan menengah ke bawah. Di antara dampak tersebut adalah berikut ini. 


Dengan menjadi negara menengah ke bawah tentunya akan menjadi jauh untuk meningkat ke level negara maju. Paling tidak untuk 25 tahun mendatang, penduduk negeri ini akan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Apalagi dibarengi dengan adanya bonus demografi di tahun 2030. Artinya angka pengangguran akan semakin membengkak.


Berikutnya akan ada efek ikutan yakni terlanjur tua duluan sebelum kaya. Di masa mudanya mereka menjadi generasi sandwich. Betapa tidak. Generasi tersebut harus menanggung beban ekonomi orang tuanya sekaligus beban ekonomi anak dan istrinya sendiri.


Begitu pula akan terjadi kelesuan investasi di Indonesia. Tidak ada ketertarikan untuk menanamkan modal dari negara-negara maju di Indonesia. Di samping adanya ketidakstabilan ekonomi yang memicu terjadinya ketidakstabilan keamanan. 


Yang lebih gawat adalah adanya kecenderungan untuk utang. Para kreditur akan memberikan tawaran-tawaran utang luar negeri. Hal demikian akan membahayakan kedaulatan negeri. 


Demikianlah beberapa dampak yang disinyalir akan terjadi akibat Indonesia yang turun kasta. Dampak sedemikian mengkhawatirkan tentunya bersifat sistemik. Artinya akibat yang sistemik tentu disebabkan oleh hal yang sistemik pula. Sistem ekonomi Kapitalis liberal yang diadopsi negeri ini telah menghasilkan keterpurukan. Keterpurukan akan terus berlanjut hingga negeri ini tidak hanya menjadi negara menengah ke bawah akan tetapi lebih dari itu, yakni  negeri yang miskin dan gagal.


Pandangan Islam


Kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi dalam Islam adalah dengan memastikan bahwa semua individu rakyat terpenuhi kebutuhannya. Baik itu kebutuhan dasar maupun kebutuhan komplemennya. 


Kebutuhan dasar yang meliputi sandang, pangan dan papan. Juga komplemennya yang meliputi kendaraan, dan lainnya. Adapun kebutuhan komunal yang meliputi pendidikan, keamanan dan kesehatan menjadi kewajiban negara. 


Oleh karena itu dalam mengkover kebutuhan sedemikian tentunya negara membutuhkan sumber pemasukan yang besar. Kekayaan alam, jizyah, kharaj, harta rikaz, fai, ghonimah, zakat dan lainnya menjadi sumber pemasukan negara. Pajak dan utang tidak menjadi penopang sumber ekonomi negara. 


Utang yang diambil negara hanya akan menjadi wasilah bagi dikuasainya kaum muslimin. Utang yang diberikan itu tentu terdapat embel-embel kompensasi yang akan membahayakan.


Negara akan mendorong para lelaki untuk bekerja guna mencukupi kebutuhannya dan kebutuhan mereka yang menjadi tanggungannya. Dalam hal ini negara akan membuka kesempatan kerja seluasnya. Warga negaranya menjadi prioritas utama dalam mendapatkan penghidupan yang layak. Bahkan kalaupun ada kondisi yang menghalangi untuk bekerja seperti cacat fisik atau karena sudah tua, maka negara yang akan menghandel dalam mencukupi semua kebutuhan rakyatnya. 


Di samping itu, dengan ekonomi Islam yang kuat dan kokoh ini, negara akan mampu menanggulangi wabah dengan cepat. Dalam sejarah Islam, wabah terjadi tercatat hingga 5 kali. Satu hal yang harus dicatat bahwa tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Bahkan ada yang hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 bulan untuk menyelesaikannya. Pasca wabah, keadaan ekonomi segera bisa pulih karena efek wabah tidak sampai menyebabkan kontrakasi pada perekonomian negara. Selanjutnya negara tetap terjaga vitalitasnya untuk selalu siaga dalam menyebarkan rahmat-nya Islam ke seluruh penjuru dunia. 


# 13 Juli 2021

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post