Mengenal Sejarah, Mengenal Jati Diri Bangsa. Sejarah yang Manakah?

Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 


Dalam sebuah webinar yang diselenggarakan Megawati Institute (29/6), Megawati mengajak kaum milenial untuk kembali pada jati diri bangsa. Jati diri bangsa bisa dikenal melalui sejarah bangsa, imbuhnya. Dengan demikian, menurut Megawati, bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar sebagaimana dicita-citakan oleh proklamator RI.


Pertanyaannya, sejarah bangsa yang manakah maksud Megawati tersebut? Mengingat sejarah bangsa ini terdapat beberapa sudut pandang. Akan tetapi, sepertinya Megawati tidak mau terlibat dalam diskursus sejarah bangsa. 


Hal demikian bisa ditelisik dari penjelasan Megawati mengenai pancasila. Megawati mengaku heran ada orang yant tidak suka dengan pancasila. Megawati mempertanyakan di bagian mana ketidaksukaan terhadap pancasila itu. Akhirnya Megawati memberikan solusinya. Bila tidak suka dengan pancasila, maka bisa diperas jadi trisila selanjutnya ekasila yakni gotong royong. Jadi gotong royong merupakan tradisi bangsa Indonesia yang mengakar, menurutnya.


Artinya, sejarah bangsa yang mesti dikenal kaum milenial adalah sejarah bangsa yang bergotong royong. Pertanyaannya, mengapa gotong royong, kok bukan Ketuhanan?


Kita perlu kembali ke diskursus, sejarah bangsa yang manakah? Dalam diskursus sejarah maka terdapat 3 versi sejarah bangsa Indonesia. Ada sejarah nusantara pertama, nusantara kedua dan nusantara ketiga.


Nusantara pertama merujuk kepada imperium Sriwijaya dan Majapahit. Bahkan di masa Majapahit, ada sumpah palapa Gajah Mada untuk menyatukan nusantara dalam wilayah Majapahit. Semenanjung Malakapun masuk dalam jajahan Majapahit.


Keyakinan masyarakat di masa itu mayoritasnya adalah Hindhu dan Budha. Di samping juga ada yang berpaham dinamisme maupun animisme. Artinya bangsa Indonesia sejak awal mengakui adanya sesuatu supranatural dan dipandang sebagai tuhan. Tentunya sikap gotong royong yang ada diilhami oleh keyakinan-keyakinan tersebut.


Sedangkan untuk sejarah Nusantara kedua, merujuk kepada dominasi Islam di nusantara. Hal ini ditandai dengan hadirnya berbagai Kesultanan di seluruh wilayah nusantara. Di masa itu terjadi perlawanan yang heroik terhadap penjajahan bangsa Barat baik Portugis, Belanda dan lainnya. Kaum muslimin nusantara bersatu bahu membahu dalam medan pertempuran di bawah komando para sultan. 


Di jaman Nusantara kedua ini uniknya adalah Islam begitu cepat tersebar dan menjadi mayoritas di nusantara. Ajaran Islam yang memandang semua manusia itu sama di hadapan Allah SWT telah menarik hati dan pikiran bangsa Indonesia. Manusia hanya dibedakan karena nilai ketaqwaannya. Maka di saat terjadi penjajahan, bangsa Indonesia sangat mudah untuk dibangkitkan guna melakukan perlawanan atas martabat kemanusiaannya.


Akhirnya di tahun 1945, bangsa Indonesia mengakui dengan jujur bahwa kemerdekaan yang diraih adalah berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Ruh jihad telah mengakar dalam kehidupan bangsa Indonesia. Hal ini dibuktikan tatkala Belanda yang membonceng NICA ingin menjajah kembali, bangkitlah semangat juang bangsa. Di Surabaya ada perlawanan besar pada 10 Nopember 1945. Hari itu akhirnya ditetapkan sebagai Hari Pahlawan. Gelora takbir membahana di setiap penjuru kota.


Adapun pada Nusantara ketiga adalah masa tatkala diterapkannya sistem Demokrasi dalam pemerintahan negeri ini. Penjajahan gaya baru di bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan lainnya terus terjadi. Semangat persatuan luntur, apalagi gotong royong. Aqidah Islam mayoritas bangsa ini tidak bisa berbuat untuk membebaskan dari penjajahan. Berbagai upaya sekularisasi kehidupan dari Islam begitu massif dengan wacana radikal radikul.


Jadi dengan menilik kondisi saat ini bahwa berbagai problem telah membelenggu negeri ini. Utang luar negeri yang menggunung, dekadensi moral, SDA yang dikangkangi asing, korupsi yang merajalela, disintegrasi bangsa, kriminalisasi terhadap ulama dan aktifis, hilangnya generasi, pandemi yang tak kunjung reda, politik yang pragmatis dan opportunis, dan lainnya, merupakan potret hasil penjajahan sistem kehidupan barat yakni Sekulerisme. Bangsa dan negeri ini menjadi terpuruk. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk menjadikan negeri dan bangsa ini menjadi bangsa yang besar, disegani dan sejahtera adalah dengan kembali mengembalikan ruh perjuangan bangsa ini melawan penjajah di masa sejarah Nusantara kedua. 


Aqidah Islam yang dianut oleh mayoritas masyarakat bangsa ini telah menempatkan kemuliaan karena ketaqwaan bukan karena kasta maupun strata sosial. Oleh karena itu tidak berhak satu manusiapun, bangsa manapun dan atau kekuatan apapun yang merenggut kesamaan derajat mnusia sebagai hamba Allah SWT. Ruh jihad yang tertanam di lubuk hati paling dalam akan berkobar ketika kemuliaan manusia sebagai makhluk Allah direndahkan sebagai hamba dunia. 


Walhasil bangsa Indonesia adalah bangsa yang Berketuhanan Yang Maha Esa. Ketundukan dan kepatuhan hanya ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. Maka dengan spirit ini bangsa ini, khususnya kaum muda akan bangkit melawan segenap upaya penjajahan. Penjajahan oleh ideologi baik Kapitalisme maupun Komunisme. Kaum muda dan segenap bangsa akan berjuang bagi kemerdekaan negeri ini guna menghamba hanya kepada Allah SWT, dengan diterapkannya Islam secara paripurna dalam seluruh bidang kehidupan. 


# 01 Juli 2021

 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post