PKC Pendukung Rezim China Yang Menindas Muslim Uighur!


 Hadi Sasongko (Direktur POROS)


"Di bawah panji besar sosialisme berkepribadian ala Tiongkok, Partai Komunis Tiongkok berhasil memenangkan dukungan rakyat untuk maju bersama memakmurkan dan mensejahterakan rakyat Tiongkok di segala bidang. Partai Komunis Tiongkok membaktikan dirinya mengemban misi sejarah memimpin rakyat Tiongkok, menciptakan kehidupan bahagia, dan melaksanakan peremajaan besar bangsa Tionghoa," Begitulah kata Mega dalam sebuah video pendek yang sudah dikonfirmasi, Jumat (2/7/2021).


Video tersebut menyakitkan hati. Mengingat PKC adalah partai penindas. Nasib Muslim di wilayah Turkistan Timur (Xianjiang) yang diduduki China masih menyedihkan. Bukan saja mendapatkan prilaku brutal seperti penangkapan, penyiksaan, dengan tuduhan teroris, umat Islam juga dipersulit menjalankan ibadah mereka. 


Rezim komunis China ini melarang pegawai negeri, anak-anak pelajar , mahasiswa untuk menunaikan ibadah berpuasa di bulan ramadhan. Pada beberapa tahun lalu, sebuah situs web yang dikelola biro pendidikan di wilayah Shuimogou ibukota Urumqi, memposting pengumuman menyerukan agar mencegah para siswa dan guru dari semua sekolah untuk memasuki masjid dan mengikuti kegiatan keagaman selam bulan ramadhan. Masjid-masjid pun diawasi secara ketat. Ibadah haji pun diperketat.


Rezim komunis Cina ini berusaha mencabut identitas Islam dari muslim Xianjiang. Mereka melarang muslimah yang berpakaian  sesuai syariat Islam dan pria muslim berjenggot untuk naik bis-bis umum. Tahun lalu pemerintah Cina memaksa imam di Xinjiang menari di jalanan dan bersumpah tidak akan mengajarkan agama yang membahayakan jiwa anak-anak. Seluruh  imam di Xinjiang dikumpulkan di lapangan dan dipaksa menari dan bernyanyii sambil mengayunkan pamflet bertuliskan “Pendapatan kami berasal dari Partai Komunis Cina bukan dari Allah”.


Untuk memperlemah umat Islam di Xianjiang, pemerintah China disamping melakukan penangkapan dan penyiksaan , juga melakukan  kejahatan demografis dengan mengerahkan imigran suka Han ke Turkistan Timur. Sementara itu, wanita muslim dipaksa untuk melakukan aborsi untuk menekan pertambahan penduduk dari muslim. Suku Han inilah yang kini mendominasi segala aspek di sana, yang menimbulkan persaingan merebutkan air dan sumber alam di daerah-daerah dan pekerjaan di perkotaan.


Dalam laporannya,  Amnesty International menyebutkan di sektor pertanian, petani Uyghur bertambah miskin karena kebijakan pemerintah. Diperparah lagi dengan dengan kenaikan pajak dan praktik-praktik yang diskriminatif serta korup. Di beberapa daerah, para petani Uyghur terpaksa menjual hasil panen mereka melalui instansi pemerintah yang membelinya dengan harga yang terlampau murah ketimbang di pasar. Sementara itu petani Han dibolehkan berdagang tanpa kesulitan yang berarti dari pemerintah. Hingga saat ini perhatian dunia terhada derita umat Islam di sana sangatlah minim, termasuk dari dunia Islam.


Nasib umat Islam di wilayah-wilayah lain juga tidak kalah menyedihkannya. Di Asia Tengah, umat Islam harus menghadapi rezim-rezim eks komunis anti Islam yang sangat represif. Ribuan aktifis-aktifis Islam di kawasan ini, dipenjara, ditangkap hingga dibunuh, tanpa proses pengadilan yang obyektif. Seperti biasa, tuduhan teroris selalu dipakai, meskipun para aktifis Islam tidak menggunakan senjata dalam perjuangannya. 


Peran regional China dan penolakan umum China untuk mengomentari urusan dalam negeri negara lain, telah membuat para pemimpin negara berpenduduk mayoritas muslim tidak merespons Xinjiang karena mereka ingin mempertahankan investasi China. Bisa dimengerti, negara-negara muslim umumnya bungkam soal penindasan kepada umat Islam di Xinjiang karena tak enak dengan China. Ironis.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post