Saat Anak Menolak Nasihat ...


Romadhon Abu Yafi' (Bengkel IDE)


Menjadi orangtua pada zaman modern, apalagi di tengah merebaknya wabah Covid-19 varian delta saat ini, tidaklah mudah. Apalagi jika orangtua mengharapkan anaknya, tidak sekadar menjadi anak yang pintar, tetapi juga taat dan sholih. Menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah tidaklah cukup. Apalagi, sekarang gadget menjadi teman baru anak. Bahkan anak terlihat gelisah, jika jauh dari gadget. 


Saat sudah kecanduan gadget, kadangkala anak cenderung agresif. Pada banyak kasus, anak bahkan marah hingga tantrum saat ‘kehilangan’ gadget dari genggamannya.


Hal tersebutlah, merupakan tantangan pendidikan saat ini. Di satu sisi, mendidik sendiri dan membatasi pergaulan di rumah juga tidak mungkin. Membiarkan mereka lepas bergaul di lingkungannya, juga cukup berisiko. 


Ya, hampir setiap orangtua mengeluhkan betapa saat ini, sangat sulit mendidik anak. Bukan saja sikap anak-anak zaman sekarang yang lebih berani dan agak ‘sulit diatur’, tetapi juga tantangan arus globalisasi budaya, informasi, dan teknologi yang turut memiliki andil besar dalam mewarnai sikap dan perilaku anak.


“Anak-anak sekarang beda dengan anak-anak dulu. Anak dulu kan takut dan segan sama orangtua dan guru. Sekarang, anak berani membantah dan susah diatur. Ada saja alasan mereka!”


Begitu rata-rata komentar para orangtua terhadap anaknya. Yang paling sederhana, misalnya, menyuruh anak untuk shalat. Sudah jamak para ibu ngomel-ngomel, bahkan sambil membentak, atau mengancam sang anak agar mematikan TV dan segera shalat. Di satu sisi, banyak juga ibu-ibu yang enggan mematikan telenovela/sinetron kesayangannya dan menunda shalat. Fenomena tersebut, jelas membingungkan anak.


Pandai dan beraninya anak-anak sekarang dalam berargumen untuk menolak perintah atau nasihat, oleh sebagian orangtua atau guru, mungkin dianggap sebagai sikap bandel atau susah diatur. Padahal bisa jadi hal tersebut, karena kecerdasan atau keingintahuannya yang besar membuat dia menjawab atau bertanya; tidak melulu mereka menurut dan diam (karena takut) seperti anak-anak zaman dulu.


Dalam persoalan ini, orangtua haruslah memperhatikan dua hal yaitu: Pertama, memberikan informasi yang benar, yaitu yang bersumber dari ajaran Islam. Informasi yang diberikan meliputi semua hal yang menyangkut rukun iman, rukun Islam dan hukum-hukum syariah. Tentu, cara memberikannya bertahap dan sesuai dengan kemampuan nalar anak. Yang penting adalah merangsang anak, untuk mempergunakan akalnya untuk berpikir dengan benar. 


Pada tahap tersebut, orangtua dituntut untuk sabar dan penuh kasih sayang. Sebab, tidak sekali diajarkan, anak langsung mengerti dan menurut seperti keinginan kita. Dalam hal shalat, misalnya, tidak bisa anak didoktrin dengan ancaman, “Pokoknya kalau kamu nggak shalat, dosa. Mama nggak akan belikan hadiah, kalau kamu malas shalat!”


Ajak dulu anak mengetahui informasi yang bisa merangsang anak untuk menalar, mengapa dia harus shalat. Lalu, terus-menerus anak diajak shalat berjamaah di rumah, juga di masjid, agar anak mengetahui bahwa banyak orang Muslim yang lainnya, juga melakukan shalat.


Kedua, jadilah Anda teladan pertama bagi anak. Hal tersebut, untuk menjaga kepercayaan anak agar tidak ganti mengomeli Anda—karena Anda hanya pintar mengomel, tetapi tidak pintar memberikan contoh.


Terbiasa memahami persoalan dengan berpatokan pada informasi yang benar, adalah cara untuk mengasah ketajaman mereka menggunakan akalnya. Kelak, ketika anak sudah sempurna akalnya, kita berharap, mereka mempunyai prinsip yang tegas dan benar; bukan menjadi anak yang gampang terpengaruh oleh tren pergaulan atau takut dikatakan menjadi anak yang tidak ‘gaul’.

 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post