Saat Game "Menundukkan" Anak


 Romadhon Abu Yafi (Bengkel IDE)


Melesatnya perkembangan teknologi tidak hanya memudahkan para orang tua, tetapi juga memanjakan anak-anak. Bagi anak - anak, berbagai aplikasi game bisa menghibur dan  menggantikan komunikasi verbal dengan lingkungan sekitarnya. Parahnya, game online ini juga telah membuat anak kecil dan para remaja menjadi kecanduan.


Kecanduan atau adiksi terhadap game online atau daring bisa mempengaruhi psikis anak, jika berlangsung secara terus menerus dan tidak diatasi. Kepala Sub Direktoreat Masalah Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja, dr Lina R Mangaweang Sp.Kj dalam bincang-bincang di Kementerian Kesehatan di Jakarta, Kamis, mengatakan, dampak psikis yang terjadi pada anak akibat kecanduan game bisa membuatnya menjadi cemas, mudah tersinggung, dan konsentrasi yang menurun.


Selain berpengaruh pada psikis anak, kecanduan gawai atau game online, juga bisa berpengaruh pada kesehatan fisik. Anak yang sering bermain game biasanya akan merasakan sakit pada pergelangan tangan, pegal-pegal pada tulang punggung dan leher, dan tentunya sangat berpengaruh pada kesehatan mata. Sementara itu, adiksi penggunaan gawai pada anak balita yang belum bisa berbicara, juga bisa menyebabkan keterlambatan bicara karena minim interaksi. (antaranews.com)


Masalah kecanduan gadget pada anak, nyatanya menjadi hal serius yang tak boleh disepelekan orangtua. Saat anak sudah mulai main game online, misalnya, anak-anak yang kecanduan bisa memainkannya berjam-jam, hingga mengganggu jadwal belajarnya hingga prestasi mereka menjadi menurun drastis. Game pun diduga memiliki efek yang buruk untuk kesehatan mental anak, sehingga orangtua perlu berupaya menhindarkan anak dari kecanduan game.


Para orangtua, sedini mungkin kita cegah agar anak-anak kita terhindar dari kecanduan gadget, melalui pembentukan karakter yang benar. Pembentukan kepribadian anak yang benar haruslah dilakukan dengan pembinaan keimanan (akidah), pembinaan dan pembiasaan ibadah, pendidikan perilaku (akhlak), pembentukan jiwa, pembentukan intelektualitas serta pembinaan interaksi sosial kemasyarakatan. Masing-masing mempunyai cara praktis yang harus dilaksanakan.


Pembinaan keimanan bisa dilakukan dengan cara: mengajarkan keyakinan, bahwa Allah senantiasa melihat dan menyertai manusia dimanapun ia berada; menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasulullah saw. serta menjadikan Rasulullah, keluarga dan para Sahabatnya sebagai contoh; menyibukkan anak dengan membaca al-Quran dan as-Sunnah sekaligus membahas maknanya; membina keteguhan mereka dalam mempertahankan keyakinan dan siap berkorban untuk hal tersebut.


Pada masa pertumbuhan anak, merupakan karunia Allah bahwa hati manusia akan Allah lapangkan untuk dapat menerima keimanan tanpa harus mengungkapkan argumentasi.  Hal ini karena setiap anak yang lahir membawa nilai fitrah dan keimanan (QS al-A’raf [7]: 172).


Lihatlah, bagaimana Rasulullah saw. menjadikan Ali bin Abi Thalib ra., anak yang belum genap sepuluh tahun usianya, menjadi anak yang pertama memeluk Islam, mengenal Allah, mempelajari aturan-Nya serta membela agama Allah dan Rasul-Nya.


Rasul saw. pernah berwasiat kepada Muadz ra.:


وَانْفِقْ عَلَى عِياَلِكَ مِنْ طَوْلِكَ، وَلا عَنْهُمْ عَصَاكَ أَدَبًا، وَأَخْفَهُمْ فِي الله


Nafkahilah keluargamu sesuai dengan kemampuan yang kamu miliki. Janganlah kamu mengangkat tongkatmu di hadapan mereka serta tanamkanlah pada mereka rasa takut kepada Allah (HR Ahmad, Ibnu Majah dan al-Bukhari).


Rasa takut kepada Allah SWT, akan menghindarkan anak dari segala perbuatan buruk. Larangan Allah untuk mencela, melukai atau membunuh orang lain akan dipatuhi oleh anak yang punya rasa takut kepada Allah SWT.  Begitupun makanan dan benda yang diharamkan Allah, akan mereka jauhi.


Selanjutnya adalah pembinaan ibadah. Pembinaan ibadah merupakan penyempurnaan dari pembinaan akidah, dan menjadi cerminan keyakinan.  Dr. Said Ramadhan al-Buthi mengatakan, “Agar akidah anak tertanam kuat dalam jiwanya, ia harus disirami dengan air ibadah dengan segala ragam dan bentuknya. Dengan begitu, akidahnya akan tumbuh kokoh dan tegar dalam menghadapi terpaan badai dan cobaan kehidupan.”


Rasulullah saw. memberikan busyra (kabar gembira) dengan sabdanya, “Tidaklah seorang anak tumbuh dalam ibadah sampai ajal menjemput dirinya, melainkan Allah akan memberi dia pahala setara dengan 99 pahala shiddiq (orang-orang yang benar dan jujur).”


Pembinaan ibadah dilakukan dengan mendorong pelaksanaan shalat wajib, ditambah dengan melakukan shalat sunnah, selain mengajak mereka menghadiri shalat berjamaah di masjid.  Ibadah shalat akan mencegah anak dari perbuatan keji dan mungkar (QS al-‘Ankabut [29]: 45). 


Mereka juga harus dibiasakan melakukan shaum sunnah, karena shaum akan menguatkan daya kontrol anak terhadap segala keinginan.  Mereka akan terbiasa sabar dan tabah.  Demikian dengan amalan ibadah lainnya yang harus dibiasakan untuk dilaksanakan oleh anak-anak, agar mereka mempunyai keterikatan dengan hukum-hukum Allah SWT

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post