The King of Silent


 Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 


Ini bukan tentang memilih bicara ataukah diam. Lantas dikatakan bahwa bicara itu lebih baik daripada diam atau sebaliknya. 


Ini juga bukan tentang mencari popularitas, pujian maupun sanjungan. Dengan justifikasi demikian, ia mengatakan saya tetap bekerja dan berkarya. Orang mau memuji atau bahkan mengolok-olok, tidak menjadi beban pikiran. Yang penting semua proker bisa terlaksana. Ya, walaupun ala kadarnya.


Ini tentang diamnya kita dari mengatakan yang benar. Ini tentang diamnya kita dari mencegah semua bentuk kedholiman. Tentunya kita semua pernah membaca maqalah ulama yang menyatakan:

من سكت عن الحق فهو شيطان اخرس

"Barangsiapa yang diam dari mengatakan yang benar maka ia adalah Setan bisu".


Tatkala terjadi pengesahan UU Omnibus Law Ciptaker yang mendholimi pekerja dan rakyat, di manakah posisi kita? 


Tatkala muncul RUU HIP, yang telah mengukuhkan asas gotong royong menggantikan Ketuhanan. Di manakah posisi kita?


Tatkala terjadi legalitas penguasaan SDA negeri ini oleh korporasi swasta maupun asing. Di manakah posisi kita?


Tatkala terjadi kriminalisasi ajaran Islam dan ulama, sehingga digalakkannya program Moderasi Beragama. Termasuk menyertifikasi da'i dan mubaligh agar bisa toleran dengan nilai-nilai dari barat. Di manakah posisi kita?


Bila saya maupun anda yang notabenenya rakyat kecil memilih diam, akibatnya bisa jadi hanya mengena diri kita sendiri. Akan tetapi bila yang memilih diam itu menduduki posisi atau jabatan dalam pemerintahan, maka akibatnya luas. Sikapnya demikian lantas diikuti oleh pengikut dan pendukungnya, akibatnya keadaan yang abnormal tersebut terus berlangsung. Masyarakat jadi apatis. Kedholiman terus berlangsung. Maka pantaslah bila Allah mengirimkan bencana silih berganti.


Apalagi seorang yang dikenal sebagai ulama menduduki posisi sebagai orang nomor 2 dalam pemerintahan. Besar harapan akan terjadi perbaikan. Besar harapan bila pemerintahan dijadikan sebagai mimbar dakwah. Mimbar bebas untuk melakukan amar makruf dan nahi munkar. Dengan demikian akan diikuti oleh seluruh ulama, santri maupun muhibbinnya guna bahu membahu memperbaiki kondisi negeri yang karut marut.


Pemerintahan tetap berjalan seperti biasanya. Tak ada yang berubah dari sebelumnya. Tidak ada suara keras mencegah ini dan itu. Tidak ada suara tegas yang memandu ini haram dan ini halal. Utang semakin menggunung hingga semakin dalam masuk jeratan penjajahan. Korupsi semakin merajalela. Bahkan upaya pemberantasan korupsi semakin dicopot taringnya. Ompong tidak berdaya. Pandemi menghebat tanpa ada upaya melakukan muhasabah dan pertobatan nasional. Sebuah pertobatan yang mengantarkan negeri ini keluar dari keangkuhan manusia untuk tunduk pada aturan Allah Yang Maha Perkasa.


Menilik kondisi demikian, tentunya yang harus diingat bahwa azab Allah itu tidak pilih-pilih. Semua kena. Tidak hanya orang dholim saja yang terkena azab. 


Janganlah menjadi King of Silent yang baru. Sadar atau tidak. Muslim satu dengan muslim lainnya itu ibarat cermin. Sawang sinawang. Lantas apa yang akan kita katakan bila teman menyampaikan bahwa kita juga diam? Artinya kita ikut mensponsori aksi diam. 


Seharusnya setiap muslim menjadikan sikap diamnya dari berbicara yang mengandung hal batil. Dengan begitu diam itu adalah emas. 


Pembicaraan kita adalah mengandung kebaikan. Kebaikan itu terus beresonansi dalam relung waktu. Panjang memang. Kesabaran dan keteguhan menjadi sandaran. Pada waktunya yang tepat, jaman akan memainkan perannya yang berkah. Jaman bersinar dengan cahaya Islam yang mengisi relung-relung semua bidang kehidupan. 


# 8 Juli 2021

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post