Tolak Liberalisasi EBT


Agus Kiswantono (Direktur FORKEI)


Direktur PT Medco Energi Internasional, Hilmi Panigoro mengatakan bahwa ratusan giga renewable energy atau energi baru terbarukan (EBT) yang akan dibangun memerlukan banyak investasi . Tak sedikit, menurutnya jika jangka panjang perlu setidaknya Rp1.000 triliun. Hilmi juga menyinggung investasi EBT perlu adanya karpet merah dalam akselerasi. (sindonews.com, 14/7/2021)


Komentar saya, bahwa liberalisasi EBT itu melengkapi liberalisasi di sektor migas, pengelolaan SDA dan sektor ekonomi lainnya secara umum. Liberalisasi adalah konsekuensi logis dari penerapan sistem kapitalisme neoliberal. Selama kapitalisme neoliberal terus diterapkan di negeri ini, maka liberalisasi itu akan jalan terus dan makin massif.


Jika saat ini solar masih disubsidi, maka ke depan subsidi itu akan dicabut dan harga solar akan mengikuti harga pasar, sama seperti premium yang sudah diliberalisasi total pada awal tahun ini. Begitu juga harga gas 3 kg, tinggal tunggu waktu saja untuk diliberalisasi. Apalagi sudah ada ungkapan: agar gas 3 kg tidak langka karena pengguna gas 12 kg beralih ke gas 3 kg saat harga gas 12 kg naik, harga gas 3 kg dinaikkan saja. Hal itu dengan mengurangi atau bahkan mencabut subsidi gas 3 kg. Jika saat ini, pelanggan rumah tangga 450 VA dan 900 VA masih mendapat subsidi, maka pencabutan subsidi itu tinggal masalah waktu saja.


Sementara itu, ketidakmampuan Pemerintah membangun proyek kelistrikan terutama karena tidak punya modal sehingga diserahkan kepada swasta, hal itu juga akibat dari penerapan sistem kapitalisme neoliberal. Doktrin kapitalisme neoliberal mengharuskan pengelolaan migas dan kekayaan alam diserahkan kepada swasta.


Pemerintah cukup menjadi regulator dan pemilik sebagian saham. Dengan begitu Pemerintah akan kehilangan sebagian besar hasil dari pengelolaan migas dan kekayaan alam lainnya. Padahal semua itu adalah sumber pemasukan yang sangat besar.


Hal itu jelas menyalahi syariah Islam. Islam menetapkan bahwa kekayaan tambang yang depositnya besar adalah milik umum, milik seluruh rakyat. Tambang demikian tidak boleh dikuasai oleh swasta.


Diriwayatkan dari Abyadh bin Hamal, bahwa ia pernah meminta kepada Rasul saw. agar diberi sebuah tambang garam di daerah Ma’rib. Rasul saw. pun memberikan tambang itu kepada dia. Namun, seorang sahabat segera mengingatkan beliau, “Ya Rasulullah, tahukah engkau, apa yang telah engkau berikan kepada dia? Sesungguhnya engkau telah memberikan sesuatu (bagaikan) air yang terus mengalir (al-mâ’u al-‘iddu).” Ia (perawi) berkata, “Beliau pun menarik kembali tambang itu dari dia.” (HR at-Tirmidzi dan Abu Dawud).

Rasul saw. juga bersabda:


«الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثٍ فِي الْكَلاَءِ وَالْمَاءِ وَالنَّارِ»


Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: padang rumput, air dan api (HR Abu Dawud dan Ahmad).

 

Hadis ini juga menetapkan bahwa sumber energi baik berupa minyak, gas, listrik dan lainnya adalah milik umum, milik seluruh rakyat. 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post