Ucapan Selamat Dari Ketum PDIP Kepada PKC Menimbulkan Polemik


 Ahmad Rizal (Direktur EKFIKRA)


Geger! sebuah video Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, mengucapkan selamat ulang tahun Partai Komunis Tiongkok yang ke-100. Menanggapi video tersebut Hendrawan Supratikno, anggota DPR dari PDIP mengkonfirmasi kebenaran video tersebut.


Ia mewajarkannya, menurutnya tidak ada yang aneh dalam video ucapan tersebut. Baginya menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada partai lain adalah ekspresi persahabatan dan saling hormat-menghormati. Hendrawan menerangkan PDIP melakukan hal yang sama kepada Partai Kongres di India, Partai LDP di Jepang, dan beberapa partai lain di banyak negara. 


Ungkapan Hendrawan semakin membuka topeng PDIP. Umat Islam mengingat, sebuah perang yang dilakukan Barat atas gagasan politik Islam adalah narasi nyaman bagi Cina untuk mengejar tujuan regional: melemahkan konsentrasi etnis Muslim. Cina telah mengadopsi bahasa politik “perang melawan teror” dengan menggunakan istilah-istilah seperti “ekstremisme” untuk mengembangkan ancaman keamanan nasional. Cina mengatakan, ia menghadapi “ancaman teroris” di Xinjiang.


Cina mengeksploitasi ketakutan terorisme untuk membenarkan penindasan terhadap warga Muslim Uighur. Pemerintah Cina  yang  telah melakukan pembantaian secara sistematis terhadap kaum Muslim Uighur di Xinjiang. Inilah Cina, yang telah lama mengklaim sebagai bangsa yang beradab, selalu menabur teror kepada minoritas musim. Ini memperlihatkan hakikat diri yang sebenarnya, yaitu sebagai penguasa psikopat di wilayah tersebut. Meskipun Cina memiliki sikap pragmatis yang cukup untuk mempertahankan hubungan perdagangan, Cina memperlakukan tetangganya dengan arogansi dan kesewenang-wenangan yang sama seperti yang dilakukan terhadap rakyatnya. Dengan teror seperti ini, Cina mengobok-obok rakyat Turkestan Timur.


Dari racun komunisme, Cina bergegas ke mereguk racun Kapitalisme, yang didasarkan pada arahan Partai Komunis yang mendominasi pemerintahan. Tampaknya para penguasa tiran sengaja untuk melenyapkan semua ideologi yang konsisten, dan bahkan sistem nilai atau rasa terkait benar dan salah. Kemudian menggantikannya dengan kompas dua indikator: yaitu keegoisan dan sikap berlebihan terhadap materi pada rakyat Cina. Ini yang membuat pekerjaan apapun, terlepas dari apakah itu melibatkan kekerasan dan ketidakadilan, adalah dibenarkan asalkan sesuai dengan dua indikator tersebut. Kaum Muslim Turkistan Timur masih menjadi orang asing dan pengemis di negeri dan di rumah mereka sendiri. Turkestan Timur adalah wilayah yang kaya dengan sumber-sumber mineral seperti hidrokarbon, emas dan uranium. Namun, standar hidup kaum Muslim Uighur berada pada tingkat terendah di Cina.


Problem muslim Cina adalah problem kita juga, pemerintah Cina harus menghentikan hegemoni terhadap kaum muslim. Kita juga mengecam pemerintah Indonesia yang tidak peduli terhadap urusan kebiadaban diktator terhadap kaum muslim khususnya di Cina. Sudah selayaknya pemerintah Indonesia untuk menghentikan kerja sama, ekonomi, politik, maupun militer terhadap Cina karena Cina merupakan negara penjajah yang telah menjajah umat Islam di Xinjiang.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post